oleh

Polres Banjar Mengerahkan Kekuatan Gabungan Menghadapi Ancaman Karhutla di Musim Kemarau

-Uncategorized-18 Dilihat

Kota Banjar – Gapuranews.net |Musim kemarau membawa satu ancaman yang tak boleh dianggap sepele: kebakaran hutan dan lahan. Api bisa muncul dari titik kecil, tetapi dalam kondisi kering dapat dengan cepat menjalar dan mengganggu lingkungan hingga aktivitas masyarakat.

Mengantisipasi kondisi tersebut, Polres Banjar tidak menunggu munculnya titik api. Kesiapsiagaan mulai dibangun sejak dini melalui Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026 di Lapangan Apel Polres Banjar, Selasa (11/08/2026).

Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro, S.I.K., S.H., M.A.P., memimpin langsung apel tersebut. Di belakangnya, kekuatan gabungan dari berbagai instansi berdiri dalam satu barisan. Unsur Kodim 0613 Ciamis, Polri, Polhut dan Polter KPH Ciamis, BPBD, Damkar, Satpol PP, Dishub, Dinkes, PMI, Tagana hingga SP-BUN ikut memastikan kesiapan menghadapi kemungkinan terburuk selama musim kemarau.

Pemandangan itu menunjukkan satu hal penting. Penanganan Karhutla bukan pekerjaan satu institusi. Ketika api muncul dan mulai membesar, kecepatan respons serta kemampuan berbagai unsur untuk bekerja dalam satu komando menjadi faktor penentu.

Apel yang berlangsung sejak pukul 08.00 WIB tersebut juga bukan sekadar agenda seremonial. Polres Banjar memanfaatkannya untuk mengecek kesiapan personel, sarana dan prasarana, sekaligus mempertemukan seluruh unsur yang nantinya berhadapan langsung dengan situasi kebakaran di lapangan.

Setelah apel selesai, kesiapan itu langsung diuji melalui simulasi penanggulangan Karhutla. Tim gabungan memperagakan tahapan penanganan kebakaran sekaligus tata cara penggunaan pakaian taktis pelindung api atau tahan api.

Simulasi tersebut menjadi gambaran bagaimana setiap unsur harus bergerak ketika menghadapi kondisi darurat. Personel dituntut memahami peran masing-masing, sementara koordinasi harus berlangsung cepat agar penanganan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Kapolres Banjar AKBP Didi Dewantoro mengatakan, peningkatan potensi Karhutla pada musim kemarau harus diantisipasi melalui langkah nyata, bukan hanya setelah kebakaran terjadi.

“Memasuki musim kemarau, kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kesiapan personel, sarana prasarana, deteksi dini dan koordinasi lintas sektor harus berjalan secara bersamaan,” kata AKBP Didi Dewantoro.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, sementara kerusakan kawasan yang terbakar juga dapat memberikan dampak lebih panjang terhadap kehidupan warga dan perekonomian.

Karena itu, pendekatan pencegahan menjadi perhatian utama. Patroli di kawasan yang memiliki potensi kerawanan perlu diperkuat, sementara informasi mengenai titik panas atau hotspot harus segera ditindaklanjuti agar potensi kebakaran dapat diketahui sejak awal.

“Jangan menunggu api membesar. Deteksi dini harus diperkuat dan setiap informasi mengenai potensi kebakaran harus segera direspons. Semakin cepat kita mengetahui, semakin cepat pula langkah penanganannya,” tegasnya.

Kapolres juga menekankan bahwa sinergi menjadi kekuatan utama dalam menghadapi Karhutla. BPBD, Damkar, TNI, Polri, Perhutani, pemerintah daerah, relawan dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi.

Di lapangan, koordinasi menjadi sangat penting karena kondisi kebakaran dapat berubah dalam waktu singkat. Api dapat meluas, arah angin berubah, sementara medan yang sulit dapat meningkatkan risiko bagi petugas.

Karena itu, kesiapan peralatan turut menjadi perhatian. Kendaraan, perlengkapan pemadaman, logistik hingga pakaian pelindung harus dipastikan dalam kondisi siap digunakan ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.

“Kita tidak boleh hanya siap secara personel. Peralatan juga harus siap. Ketika ada kejadian, jangan sampai waktu terbuang karena sarana yang dibutuhkan belum tersedia atau tidak dapat digunakan secara optimal,” ujar Kapolres Banjar.

Dalam kesempatan tersebut, aspek keselamatan personel juga menjadi perhatian. Petugas yang berada di garis depan menghadapi api harus memahami prosedur keselamatan dan tidak mengambil risiko yang dapat membahayakan diri.

Bagi Polres Banjar, apel ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ancaman Karhutla harus dihadapi secara kolektif. Kesiapsiagaan bukan hanya tentang berapa banyak personel yang disiapkan, tetapi seberapa cepat seluruh kekuatan dapat bergerak ketika keadaan benar-benar membutuhkan.

Dengan kekuatan lintas sektor yang telah dikonsolidasikan, Polres Banjar memastikan langkah pencegahan dan penanganan Karhutla disiapkan sejak awal musim kemarau. Targetnya jelas: potensi api terdeteksi lebih cepat, respons lebih terukur, dan dampaknya tidak sampai meluas ke masyarakat maupun lingkungan.

Di tengah musim kemarau yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi, kesiapan menjadi pertahanan pertama. Polres Banjar bersama seluruh unsur terkait memilih membangun kesiapan sebelum api muncul, bukan bergerak setelah keadaan terlanjur membesar.
(Ovan Andarsovan).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *